-->

Hello, warm-hearted people

I'm Nur Imroatun Sholihat

Your friend in learning IT audit Digital transformation advocate a-pat-on-your-shoulder storyteller

3 Mar 2025

Beri Waktu Kepada Sang Pemilik Waktu

  • March 03, 2025
  • by Nur Imroatun Sholihat

Malam itu, jemariku berkelana di antara kumpulan catatan di ponsel. Di antaranya, aku menemukan secarik tulisan yang kubuat tepat di hari pertama tahun ini. Biasanya, aku menuliskan beberapa target di awal tahun, tetapi kali ini hanya ada satu kalimat:

 

"Berikan waktu kepada Sang Pemilik Waktu."

Jari-jariku yang semula lincah terhenti. Apa yang terjadi saat aku menuliskan kalimat itu? Apakah aku sedang bersedih atau justru berbahagia? Aku mencoba mengingat kembali momen itu. Tak lama kemudian, aku tersenyum. Aku teringat rasa lega dan hangat yang memenuhi hati mengetik kalimat itu.

****

 

Di suatu subuh di bulan Maret 2024, aku tersentak oleh sensasi dunia berputar begitu cepat. Sejak saat itu, keseimbanganku seolah menghilang. Saat berjalan, aku merasa hendak terjatuh. Saat berdiam, aku merasa badanku berguncang. Setiap pagi, aku terbangun dengan kelelahan yang mendera dan kekhawatiran yang tak kunjung reda. Hari-hari berlalu dalam tatapan kosong, seolah dunia yang kupijak sedang menelantarkanku.

 

Lambat laun, aku mulai lelah menunggu pemulihan.

 

"Apakah ada kemungkinan jika saya tidak akan pernah sembuh, Dok?" tanyaku suatu sore, di kunjungan yang kesekian, dengan suara yang lemah.

 

Dokter itu mengerutkan kening, mencoba memahami arah pertanyaanku.

 

"Jika memang demikian, saya ingin belajar menerima vertigo ini sebagai bagian permanen dalam hidup saya." Aku bahkan tak tahu berapa banyak energi yang telah kuhabiskan hanya untuk bisa mengucapkan kalimat itu dengan tenang.

 

Tatapan dokter yang biasanya lembut kini semakin melunak. Ia menepuk pundakku perlahan dan berujar, "Kamu pasti sembuh. Percaya bahwa kamu pasti bisa sembuh. InsyaAllah."

 

Namun, entah mengapa, kata-kata yang seharusnya menggelar harapan itu terdengar seperti penghiburan semata. Aku tersenyum pahit. Setelah berbulan-bulan berada dalam lorong panjang yang gelap, aku tak lagi bisa melihat di mana ujungnya. Aku mulai kehilangan kepercayaan bahwa aku ditakdirkan untuk pulih—tidak bahkan setelah waktu yang panjang berlalu.

 

Sebagai seseorang yang kerap merasa waktu membiarkannya terbengkalai, aku mulai terbiasa tidak berharap banyak. Setelah lebih dari satu dekade dipenuhi pertanyaan tentang kapan masa-masa yang kuharapkan tiba, kini aku hanya ingin berdamai. Hati yang dulu dipenuhi keraguan—"Pasti datangkah semua yang ditunggu?" seperti dalam puisi Sapardi Djoko Damono, kini tak lagi terlalu menunggu. Batin yang dulu resah—"I used to think that I couldn't find it for my entire life. The world is very big and I walked it slowly," seperti ujar Bolin Shijiang, kini tak lagi begitu mencari.

 

Aku tersadar bahwa menanti dengan harapan jauh lebih berat ketimbang tanpa berharap. Maka, aku berhenti bertanya dan memilih menerima bahwa mungkin, tak semua orang mendapatkan apa yang mereka perjuangkan. Aku mulai berbisik pada diriku sendiri, "Mungkin memang begini hidupku selamanya.".

 

Sampai akhirnya, di suatu hari di bulan November 2024, aku mencoba bersujud—sesuatu yang berbulan-bulan tak bisa kulakukan tanpa dunia terasa berputar begitu kencang. Aku bisa melakukannya. BPPV (Benign Paroxysmal Positional Vertigo) yang sekian lama menggelayuti langkahku perlahan mulai membaik. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan. Aku menyadari bahwa Sang Pemilik Waktu hanya meminta hatiku lebih berlapang sebelum akhirnya disembuhkan.

 

"Beri waktu kepada Sang Pemilik Waktu," kalimat yang melintas di pikiran.

****

 

Setelah kejadian itu, aku tak lagi berlari ke segala penjuru, mencari jawaban. Aku berhenti tergesa-gesa menuntut kepastian dari waktu. Aku memilih untuk berdoa dalam senyap lalu percaya.

 

Percaya bahwa waktu memiliki caranya sendiri. Percaya bahwa Sang Pemilik Waktu tahu kapan saat yang tepat untuk menghadirkan apa yang kubutuhkan. Percaya bahwa badai, sebesar apapun, akan berlalu. Percaya bahwa Dia sedang merangkai setiap potongan hidupku dengan baik meski saat ini aku belum bisa melihatnya.

 

Tahun ini, aku hanya ingin berkata pada diriku sendiri:

 

"Kamu sudah berusaha dengan baik, Nur Imroatun Sholihat. Tetapi untuk perkara waktu, mulai sekarang, berikanlah kepada Sang Pemilik Waktu. Dia tidak akan menelantarkanmu". 

 

Love, 

iim

 

0 Comments:

Post a Comment

Videos

Jakarta, Indonesia

SEND ME A MESSAGE