Malam
itu, jemariku berkelana di antara kumpulan catatan di ponsel. Di antaranya, aku
menemukan secarik tulisan yang kubuat tepat di hari pertama tahun ini.
Biasanya, aku menuliskan beberapa target di awal tahun, tetapi kali ini hanya ada
satu kalimat:
"Berikan
waktu kepada Sang Pemilik Waktu."
Jari-jariku
yang semula lincah terhenti. Apa yang terjadi saat aku menuliskan kalimat itu?
Apakah aku sedang bersedih atau justru berbahagia? Aku mencoba mengingat
kembali momen itu. Tak lama kemudian, aku tersenyum. Aku teringat rasa lega dan
hangat yang memenuhi hati mengetik kalimat itu.
****
Di
suatu subuh di bulan Maret 2024, aku tersentak oleh sensasi dunia berputar
begitu cepat. Sejak saat itu, keseimbanganku seolah menghilang. Saat berjalan,
aku merasa hendak terjatuh. Saat berdiam, aku merasa badanku berguncang. Setiap pagi, aku
terbangun dengan kelelahan yang mendera dan kekhawatiran yang tak kunjung reda.
Hari-hari berlalu dalam tatapan kosong, seolah dunia yang kupijak sedang
menelantarkanku.
Lambat
laun, aku mulai lelah menunggu pemulihan.
"Apakah
ada kemungkinan jika saya tidak akan pernah sembuh, Dok?" tanyaku suatu
sore, di kunjungan yang kesekian, dengan suara yang lemah.
Dokter
itu mengerutkan kening, mencoba memahami arah pertanyaanku.
"Jika
memang demikian, saya ingin belajar menerima vertigo ini sebagai bagian
permanen dalam hidup saya." Aku bahkan tak tahu berapa banyak energi yang
telah kuhabiskan hanya untuk bisa mengucapkan kalimat itu dengan tenang.
Tatapan
dokter yang biasanya lembut kini semakin melunak. Ia menepuk pundakku perlahan
dan berujar, "Kamu pasti sembuh. Percaya bahwa kamu pasti bisa sembuh.
InsyaAllah."
Namun,
entah mengapa, kata-kata yang seharusnya menggelar harapan itu terdengar
seperti penghiburan semata. Aku tersenyum pahit. Setelah berbulan-bulan berada
dalam lorong panjang yang gelap, aku tak lagi bisa melihat di mana ujungnya.
Aku mulai kehilangan kepercayaan bahwa aku ditakdirkan untuk pulih—tidak bahkan
setelah waktu yang panjang berlalu.
Sebagai
seseorang yang kerap merasa waktu membiarkannya terbengkalai, aku mulai
terbiasa tidak berharap banyak. Setelah lebih dari satu dekade dipenuhi
pertanyaan tentang kapan masa-masa yang kuharapkan tiba, kini aku hanya ingin
berdamai. Hati yang dulu dipenuhi keraguan—"Pasti datangkah semua yang
ditunggu?" seperti dalam puisi Sapardi Djoko Damono, kini tak lagi terlalu
menunggu. Batin yang dulu resah—"I used to think that I couldn't find
it for my entire life. The world is very big and I walked it slowly,"
seperti ujar Bolin Shijiang, kini tak lagi begitu mencari.
Aku
tersadar bahwa menanti dengan harapan jauh lebih berat ketimbang tanpa
berharap. Maka, aku berhenti bertanya dan memilih menerima bahwa mungkin, tak
semua orang mendapatkan apa yang mereka perjuangkan. Aku mulai berbisik pada
diriku sendiri, "Mungkin memang begini hidupku selamanya.".
Sampai
akhirnya, di suatu hari di bulan November 2024, aku mencoba bersujud—sesuatu
yang berbulan-bulan tak bisa kulakukan tanpa dunia terasa berputar begitu
kencang. Aku bisa melakukannya. BPPV (Benign Paroxysmal Positional Vertigo)
yang sekian lama menggelayuti langkahku perlahan mulai membaik. Air mata jatuh
tanpa bisa kutahan. Aku menyadari bahwa Sang Pemilik Waktu hanya meminta hatiku
lebih berlapang sebelum akhirnya disembuhkan.
"Beri
waktu kepada Sang Pemilik Waktu," kalimat yang melintas di pikiran.
****
Setelah
kejadian itu, aku tak lagi berlari ke segala penjuru, mencari jawaban. Aku
berhenti tergesa-gesa menuntut kepastian dari waktu. Aku memilih untuk berdoa
dalam senyap lalu percaya.
Percaya
bahwa waktu memiliki caranya sendiri. Percaya bahwa Sang Pemilik Waktu tahu
kapan saat yang tepat untuk menghadirkan apa yang kubutuhkan. Percaya bahwa
badai, sebesar apapun, akan berlalu. Percaya bahwa Dia sedang merangkai setiap
potongan hidupku dengan baik meski saat ini aku belum bisa melihatnya.
Tahun
ini, aku hanya ingin berkata pada diriku sendiri:
"Kamu
sudah berusaha dengan baik, Nur Imroatun Sholihat. Tetapi untuk perkara waktu,
mulai sekarang, berikanlah kepada Sang Pemilik Waktu. Dia tidak akan
menelantarkanmu".
Love,
iim